PEKANBARU - Wagubri H Edy Nasution didampingi Danrem 031 WB, BNPB Prov Riau, Perwakilan Polda Riau hadiri Rapat Evaluasi Penanggulangan Kebakaran Hutan & Lahan di Prov. Riau bersama TIM BNPB Pusat yang dihadiri Instansi Terkait di Posko Penanganan Darurat Bencana Karhutla Prov. Riau Komp. Lanud Roesmin Nurjadin.

Kepala BMKG Prov Riau menyampaikan saat ini merupakan puncak dari musim kemarau pada tahun 2019, pada bulan Oktober mendatang barulah siklus cuaca memasuki musim penghujan Secata umum titik panas didominasi dari wilayah Riau bagian selatan.

BPBD Provinsi Riau menyampaikan bahwa Dari 12 kab kota se provinsi Riau ada dua kab yang kondusif dan tidak mempunyai titik api yakni kab Rohul dan Kuansing. Kepada mahasiswa agar dapat berkolaborasi dengan BPBD untuk mensosialisasikan pencegahan karhutla kepada masyarakat sekitar lahan rawan karhutla.

Perbandingan luas lahan terbakar (Ha) 2019 dan 2018 dengan total 6,541,76 (2019) - 5,776,46 (2018) dengan rincian : kab Rohil 11,221,95-1,985,35 ha. Rohul 34,25-99 ha. Dumai 329,25-512,25 ha. Bengkalis 1,764,84-576,95 ha. Meranti 349,7- 963,56 ha. Siak 793,7-157,25 ha. Pekanbaru 174,99-52,6 ha. Kampar 233,53- 127 ha. Pelalawan 344- 266,5 ha. Inhu 414,1-576 ha. Inhil 866,35-458 ha. Kuansing 15,1-2 ha.

Mencegah karhutla di tingkat bawah lebih efektif dibandingkan dengan pemadaman karhutla. Ujarnya.

Satgas Udara berkesimpulan bahwa pelaksanaan water boombing akan lebih efektif dan efisien jika dilaksanakan dengan metode pendorongan fuel ke spot yang mendekati lokasi kebakaran, karena akan menambah jam operasional misi WB dilokasi. dengan demikian jumlah WB DG dorong fuel akan lebih banyak. hal ini sesuai dengan perbandingan dengan total jam terbang 03.03 dengan total WB 20 sedanglam dengan Dorong Fuel dengan total jam terbang 03.05 dengan total sebanyak 45 kali WB.

Satgas Udara juga menyampaikan bahwa terjadi peningkatan luas Karhutla 1418.15 ha dari tahun sebelumnya 4571,5 ha dengan total luas Karhutlan tertanggal 10 september 2019 seluas 5989,65 ha.

P3E Sumatera Kementerian LHK menyampaikan bahwa Data ISPU Tanggal 10 september 2019 Kab Siak berlokasi di Minas dengan konsentrasi 378 setara ISPU 237 dengan Kesimpulan Siak ISPU sangat tidak sehat, Kab kampar berlokasi di Petapahan dengan konsentrasi 223 setara ISPU 137 dengan Kesimpulan Kampar ISPU Tidak sehat, Kota Dumai berlokasi di Dumai dengan konsentrasi 635 setara ISPU >300 dengan Kesimpulan Dumai ISPU Berbahaya, kab Rokan Hilir berlokasi di Bangko dan Libo dengan konsentrasi 107 dan 292 setara ISPU 79 dan 171 dengan Kesimpulan Rohil ISPU Sedang hingga tidak sehat, Kab Bengkalis berlokasi di Duri Camp dan Duri Field dengan konsentrasi 462 dan 381 setara ISPU >300 dan 244 dengan Kesimpulan Bengkalis ISPU Sangat tidak sehat Hingga berbahaya.

P3E Sumatera Kementerian LHK dari hasil pemantauan ISPU 10 september 2019 pukul 07.00 Wib Berkesimpulan bahwa kualitas udara ambien di Prov Riau pada kondisi SEDANG hingga Berbahaya. Distribusi sebaran ISPU Siak SANGAT TIDAK SEHAT, Kampar TIDAK SEHAT, Dumai BERBAHAYA, Rohil SEDANG hingga TIDAK SEHAT, Bengkalis SANGAT TIDAK SEHAT hingga BERBAHAYA. dimana tingkat kualitas udara secara umum dapat merugikan kesehatan yang serius.

Satgas Darat disampaikan oleh Danrem 031WB mengatakan bahwa perlu adanya kepedulian masyarakat terhadap situasi saat ini dan kedepannya. Kepada korporasi yang berusaha diwilayah sekitar harus ikut berkontribusi baik moril maupun materil terhadap karhutla saat ini.

Wagubri dalam sambutan dan arahannya kepada Satgas Darat, Satgas Udara, Satgar Gakkum serta Instansi Pemerintah baik Pusat dan daerah maupun Korporasi agar bersama sama bahu membahu memadamkan Karhutla saat ini.

Tingkatkan Koordinasi Cegah Karhutla lebih baik dari Memadamkan, tegasnya mengakhiri.(HUMAS RIAU)

sumber dari : https://www.riau.go.id

KOMENTAR :

Berita Terbaru